Semesta adalah akuarium kata-kata dan kita adalah ikan-ikannya....

Rabu, 15 April 2026

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu


Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount."

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumahtangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.
Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.


“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada. 

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla. “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kaupulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar...” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku, Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci? Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

BACA JUGA: CENGKUNG

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel itu pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.
Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelpon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.
***

 
Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumahtangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya. 
Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.
Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.
Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.  (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di ideide.id, edisi Minggu, 1 Januari 2020
Share:

Suara dari Balik Pintu Kamar


Laura menekan tombol play pada ipad-nya dan menempelkan earphone-nya ke telinga. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang, berusaha bersikap tenang. Tindakan ini membuat ia merasa lebih baik sekaligus lebih sedih. Lebih baik karena aman dari suara-suara keras itu, dan lebih sedih karena merasa diabaikan.
Setetes air mata bergulir di pipi Laura. Ia ingat, seminggu yang lalu ia dan mamanya duduk di taman kota. Ia bertanya, apakah mama akan berpisah dengan papa? Tapi mama tak menjawab. Laura justru dimarahi, karena sudah bertanya sesuatu yang tak boleh diketahui.

Jika dua orang dewasa sering bertengkar, biasanya mereka akan berpisah, begitu kata Stefani, teman sekolahnya saat ia bercerita jika mama dan papanya sering bertengkar. Saat ini Laura merasa takut pada ucapan Stefani. Ia takut ucapan Stefani menjadi kenyataan.

Sebenarnya Laura ingin bertanya, bertanya perihal penyebab pertengkaran mama dan papa, namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Mama dan papa tak pernah mau menanggapinya. Bahkan yang paling membingungkannya adalah sikap papa dan mama. Laura merasa asing di mata mereka.

Dulu, sebelum malam-malamnya diteror oleh suara itu, kehidupan terasa wajar. Seperti biasa, papa sering tidak pulang, bahkan bisa satu minggu. Kemudian seperti biasa, mama masih mengantarnya ke sekolah. Tetapi perubahan mulai muncul ketika papa pulang bersama Tante Rosana. Sejak itulah mama dan papa sering bertengkar.

Dalam pertengkaran mereka, nama Tante Rosana selalu disebut-sebut mama. Laura tak mengerti, mengapa nama perempuan itu selalu disebut. Bahkan jika mama sudah menyebut nama itu, papa akan berteriak dan mengatakan bahwa Tante Rosana lebih baik dari mama. Laura tak setuju. Menurutnya, mama lebih baik dari Tante Rosana. Di mata perempuan itu, Laura melihat seribu semut merah yang berniat menyakitinya. Seperti mama, Laura tak suka Tante Rosana.

BACA JUGA: CENGKUNG

Selama ini, Laura tak pernah menyembunyikan kesedihannya, karena mama dan papa selalu mengajarinya untuk berterus terang. Namun, sekarang Laura mendapati kenyataan yang menyakitkan; ia tidak mendapatkan itu dari mama dan papa. Mama dan papa bersikap seperti orang asing. Mereka tak pernah mau berterus terang tentang apa yang terjadi.

Biasanya, dulu, papa akan menghampirinya jika ditemui ada kesedihan di wajah Laura. Papa akan menggendongnya keluar kamar, sambil menggelitiki pinggangnya hingga Laura tertawa nyaring. Dan kalau ia sudah lelah tertawa, barulah papa akan mendudukannya di sofa. Biasanya mama juga sudah menunggu di sana, lalu mereka bertiga menyusun rencana-rencana ajaib untuk mengisi libur akhir pekan.

Saat ini Laura merindukan masa-masa itu. Ia sedang merindukan dongeng-dongeng mama. Dulu, biasanya jika ia tak bisa tidur, mama akan membacakan sebuah dongeng untuknya. Dongeng yang paling ia ingat adalah dongeng tentang puteri cantik yang terperangkap di dalam puri penyihir. Puteri cantik itu terpisah dari mama dan papanya hingga seorang peri menyelamatkannya.

Entah kenapa, sekarang Laura merasa dirinya seperti puteri cantik itu: terperangkap dan terpisah dari mama dan papa. Namun Laura tidak yakin ada peri yang akan menyelamatkannya, sebab Laura tahu, peri hanya ada di dalam dongeng mama. Tak pernah ada peri yang akan menemaninya. Di kamar ini ia menangis sendirian.

Suara-suara itu membuat Laura putus asa. Bahkan meskipun volume lagu di ipad-nya sudah dikeraskan, suara-suara itu masih saja terdengar. Dengan gerakan pelan, Laura meraih selimut dan menutupi sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki, berharap dengan cara itu ia tak lagi mendengar suara-suara di luar kamarnya.
Betapa menjengkelkan situasi yang terus diulang-ulang seperti ini, pikir Laura. Situasi yang sama ketika ia dan mama berada di pantai bulan lalu. Papa yang tiba-tiba hadir mulanya membuat Laura gembira. Ia ingin mengajak papa berlomba mengumpulkan kerang, namun sikap dingin papa membuat Laura memilih mengumpulkan kerang seorang diri.

Pada saat itulah untuk pertama kalinya Laura berharap kemunculan sesosok peri. Peri yang terbang di sekitar kepalanya, mengenakan gaun putih dan sebatang tongkat wasiat. Laura berkhayal peri itu akan memutar-mutar tongkatnya, mengeluarkan kemampuan sihirnya lalu menyulap mama dan papa menjadi patung.



Sore itu, sewaktu mereka pulang ke rumah—tentu saja hanya ia dan mama yang pulang, sebab papa telah pergi usai Laura menyelamkan kepalanya ke laut untuk ke lima kalinya—Laura mendapati bekas kebiruan di pinggir bibir mama. Bekas terantuk batu, kata mama. Tapi siapa yang percaya? Mama bukanlah Nenek Christine, tetangganya yang bermata lamur itu. Mata mama lebih awas dari mata seekor elang. Laura pernah membuktikannya: ia sering tertangkap saat sedang mengendap-endap keluar jendela ketika jam tidur siang.

Beberapa hari kemudian bekas biru yang misterius itu menghilang dari wajah mama. Bersamaan dengan itu, Laura juga kehilangan papa. Papa betul-betul berubah. Perubahan itu membuat Laura takut. Udara yang terembus dari mulut papa kerap berbau busuk. Pada mata papa, Laura melihat ribuan semut merah yang dulu ia lihat ada di mata Tante Rosana.

Sebagian dirinya tidak menyalahkan perubahan papa—meski itu bukanlah hal yang diinginkannya—setidaknya masih ada mama yang tidak berubah. Tapi bagaimana jika mama juga ikut berubah? Laura ingin menangis. Pertanyaan itu membuat air matanya keluar lagi. Semakin keras suara-suara itu, semakin deras pula kejatuhan air matanya.

Hal yang paling ditakuti Laura apabila mama dan papa berpisah ialah kesepian. Tanpa mama dan papa, ia hanya gadis kecil yang berkeliaran tidak keruan di dalam rumah ini. Bagaimana jika mama dan papa betul-betul akan berpisah? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup? Pertanyaan itu membuat tenggorokan Laura tercekik dan jantungnya berdebar.
Laura mencengkram bantal sekuat tenaga. Bahu dan lengannya gemetar. Laura mengerang. Untuk sesaat ia merasa perutnya kejang, tapi untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama. Ia menahan perasaan tak nyaman itu dalam diam dan menangis tersedu-sedan.

“Peri,” bisik Laura lirih. “Bisakah kaudatang?”

Laura melihat ke arah lampu yang tergantung di langit-langit kamar. Ia mencari sosok peri yang sering didongengkan mama. Ternyata peri itu terbang di atas sana, membelakangi cahaya lampu, bayangannya begitu jelas. Sayap peri itu mengepak dan Laura menunggu ia menggerakkan tongkat wasiatnya.

“Bisakah kau membuat mama dan papa menjadi patung?” kata Laura memohon. “Untuk malam ini saja,”

Peri itu diam saja. Ia mengabaikan permintaan Laura. Bahu Laura berguncang-guncang, karena kali ini ia menangis lebih hebat dari yang pertama. Ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepala. Lampu masih menyala. Peri telah lenyap. Tentu saja tidak pernah ada peri di kamar itu. Laura tahu itu. Peri hanya dongeng yang diulang-ulang mama.

“Tapi rasanya begitu nyata,” ucapnya dengan suara serak. “Peri itu begitu nyata!”

Baginya bukan masalah dengan harapan buruk yang baru saja ia pikirkan: peri menyulap mama dan papa menjadi patung. Ia cuma berharap dengan begitu mereka akan lebih tenang. Tetapi sayangnya tak akan ada peri, tak akan ada patung, tak akan ada keajaiban untuk Laura.


Waktu telah menunjukkan pukul satu malam, Laura kembali berusaha memejamkan mata, mencoba menikmati alunan lagu di ipad-nya. Ia sama sekali tidak ingin bangun dari tidurnya apalagi menemui mama dan papa. Laura hanya ingin meringkuk di atas ranjang, mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, dan kalau bisa, ia ingin tidur.

Angin berembus pelan, menyusup dari jendela kamar yang sedikit terbuka, membuat gorden menari seperti seorang balerina. Angin menyentuh kulit Laura dan ia merasa sejuk. Setelah satu atau dua menit, Laura melepas earphone-nya. Suara-suara tadi kini berganti suara-suara benda berjatuhan dan pecah. Suara benda pecah itu cepat berganti dengan suara mama.

Ketakutan Laura semakin menjadi-jadi ketika papanya berteriak; mati! mati! mati!. Teriakan papa kemudian  berganti menjadi suara tangis sesenggukan. Setelah itu semuanya hening. Hening yang panjang dan suram. Waktu bergerak lamban. Suara itu menghilang. Di atas ranjang, Laura tertidur. Di dalam tidur ia bermimpi bertemu peri. (*)

Catatan:
Cerpen pernah tayang di Warta Bianglala, edisi Minggu, 11 April 2021
Share:

Selasa, 07 April 2026

Rimba


Seminggu sebelum pesta pernikahannya digelar, Darmanto menemui Mbah Sarmijan. Lelaki berumur delapan puluh tahun itu, oleh warga kampung Bondol, telah dianggap begawan paling waskita, peramal paling ulung untuk urusan masa depan. Oleh sebab itulah, Darmanto berpikir, sebelum dia betul-betul menikah, belum afdhol rasanya jika belum minta petuah pada Mbah Sarmijan.

“Jika ingin hidupmu bahagia dan dijauhkan dari bala, menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Mbah Samijan. Lelaki berjanggut putih panjang itu duduk bersila di dipan kayu nangka, sedangkan Darmanto duduk di sampingnya. Pemuda itu menyimak dengan takzim setiap kalimat yang keluar dari mulut Mbah Samijan.

“Apa maksudnya ‘perempuan yang punya rimba’ itu, Mbah?”

“Itu hanya kiasan,” jawab Mbah Samijan. “Rimba yang kumaksudkan adalah bulu kemaluan.”

Serentak tersembur tawa dari mulut Darmanto usai mendengar jawaban itu. “Mbah ini ada-ada saja,” ujarnya dengan raut wajah memerah tersengat malu.

“Aku tidak bercanda,” jawab Mbah Samijan serius. “Kamu mau hidup menderita dan susah berkepanjangan karena menikah dengan perempuan gersang?”

Darmanto menggeleng, kemudian kembali bertanya. “Tapi kenapa pula mesti begitu syaratnya?”

“Rimba adalah perlambang kesuburan dan kekayaan,” sahut Mbah Samijan penuh wibawa. Dia berhenti sejenak, lalu menyalakan rokok klobotnya sebelum melanjutkan kata-kata. “Semakin lebat rimba perempuan yang kamu nikahi, semakin lebat pula hujan rejeki dalam hidupmu nanti."

Darmanto tersenyum kecut, tapi dia mengangguk-angguk juga. Sisa-sisa tawa meluncur pelan dari mulutnya. Entah meremehkan, atau sedang gamang. Sebenarnya Darmanto belum mengerti benar, bagaimana mungkin syarat hidup bahagia berumah tangga dikait-pautkan dengan rambut yang tumbuh di kemaluan? Darmanto ingin menyangkal, tapi segan pada  nama besar Mbah Samijan. 
Sudah banyak bukti ramalan Mbah Samijan sering menjadi kenyataan. Seperti yang terakhir, ketika Tukimin, anak bungsu Mang Sapardin hilang seminggu yang lalu. Orang-orang mencari ke semua lekuk kampung Bondol, namun bocah itu tak kunjung ditemukan. Barulah ketika beberapa orang berpetuah pada Mbah Samijan, keberadaan Tukimin mendapat titik terang. Mbah Samijan mengatakan, bocah itu berada di bawah jembatan sungai Widas. Dan benar saja, ketika orang-orang berbondong menuju tempat itu, jasad Tukimin ditemukan.

Selain itu tentu saja, banyak lagi peristiwa yang membuktikan ramalan Mbah Samijan tak bisa diremehkan. Dan, lantaran kenujuman-kenujumannya itulah, Mbah Samijan menjadi tempat meminta petunjuk bagi orang-orang. Persis seperti yang dilakukan Darmanto. Dia bertandang ke rumah Mbah Samijan untuk menanyakan rencana pernikahannya dengan Mayang.

Darmanto ingin tahu seperti apa rumah tangganya di masa depan. Apakah bahagia ataukah tidak. Darmanto juga penasaran, hal apa saja yang perlu dia lakukan agar biduk rumah tangganya tak mendapat halang rintangan. Tapi jawaban yang dia terima, alih-alih menenangkan, malah mencengangkan.

“Tolonglah, jangan menakutiku begitu, Mbah,” kata Darmanto murung. “Mbah 'kan tahu, aku ini akan menikah. Kalau ternyata istriku tak punya bulu kemaluan, tak mungkin pula pernikahanku dibatalkan.”

“Aku sekadar mengingatkan,” jawab Mbah Samijan tenang. Dia seolah tahu pertanyaan yang berkecambah di kepala Darmanto. “Itu juga kalau kamu percaya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa.” 

“Aku percaya, Mbah, aku percaya,” sahut Darmanto gentar. “Tapi apa mungkin semua laki-laki yang hidup menderita setelah menikah itu karena istrinya tak punya rimba?”

“Aku tidak membicarakan semua laki-laki. Aku membicarakanmu,” seloroh Mbah Samijan sambil menjentikkan abu rokoknya ke asbak tanah liat di atas meja. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Darmanto. “Aku melihat syarat itu di wajahmu. Kalau kamu ingin hidupmu bahagia dan jauh dari bala, ya hanya itu syaratnya. Menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

“Kalau tidak ada, bagaimana?” tanya Darmanto sekonyong-konyong.

“Tidak mungkin. Pasti ada!”

Darmanto menghela napas panjang. Dia menggaruk kepala. “Kalau nanti ternyata istriku tak punya, apakah aku mesti menceraikannya?”

Mbah Samijan tergelak. “Tak perlu risau, Darmanto. Percayalah padaku. Calon istrimu itu pasti punya rimba. Tenang saja ha ha ha ....” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Darmanto.
***
BACA JUGA: Cengkung

Sejak mendengar ramalan Mbah Samijan, mau tidak mau Darmanto jadi kepikiran juga. Bahkan boleh dibilang ramalan itu membuatnya bimbang. Sebagai pemuda yang sedang bersiap melepas masa lajang, perkara hidup bahagia tentu menjadi tujuan. Namun persoalannya, letak dari kebahagiaan itu sungguh tak masuk di akalnya.

Darmanto belum menemukan cara untuk mengetahui apakah Mayang, calon istrinya itu memiliki rimba ataukah tidak. Darmanto malu jika harus bertanya. Dia juga tak punya nyali untuk memungkasi rasa penasarannya dengan mengendap-endap di sekitar tempat pemandian atau mengintip gadis itu berganti pakaian. Darmanto tak sanggup menerima resikonya: dihajar orangtua Mayang atau yang lebih gawat lagi, dihajar sampai sekarat seperti nasib Udin Gembala yang kepergok tengah mengintip anak gadis Bude Sum yang sedang mandi di Sendang Galuh beberapa bulan yang lalu.

“Menurutmu, apakah mesti kutanyakan saja pada Mayang, ya, Man?” tanya Darmanto kepada Rahman. Rahman ini kawan akrabnya. Apa pun permasalahannya, Darmanto senang membaginya pada Rahman. Rahman kerap memberi jalan keluar yang cerdas dan kadangkala luput dari  pemikiran Darmanto.

“Ya, ada baiknya kamu tanyakan saja,” sahut Rahman yakin. “Lagi pula ini untuk kebaikan kalian berdua.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalau ternyata—eem, maaf ini ya, kalau ternyata benar Mayang tak punya rimba, bukankah kata Mbah Samijan hidupmu bakal sengsara? Karena itulah kupikir, sebaiknya kamu memang mesti bertanya. Setidaknya kalau betulan dia tak punya rimba, kalian bisa cari obat penyuburnya ha ha haa....”

“Sial!” maki Darmanto sambil mencengkram puncak kepalanya. “Tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku cuma gara-gara persoalan ini. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan orang-orang.”

Rahman menatap wajah gusar Darmanto dengan prihatin. “Ya, jangan sampai begitu. Undangan sudah disebar, jangan sampai juga kamu batalkan. Kalau sampai dibatalkan, bukan cuma kamu yang malu, tapi juga keluargamu dan keluarga Mayang. Pikirkan itu.”

Darmanto tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Pemuda itu bersetuju dengan saran yang diberikan Rahman. Memang itulah yang harusnya dia lakukan; membicarakan baik-baik dengan Mayang. Lagi pula bagi Darmanto, menikah bukan perkara setahun dua tahun belaka. Menikah itu cukup satu kali seumur hidup dan, kalau bisa, selamanya. Setelah memikirnya berulang kali, Darmanto sampai pada satu kesimpulan: dia memang harus menemui Mayang.
***
BACA JUGA: Orang-Orang Pabrik

Pagi-pagi sekali Darmanto datang ke rumah Mayang. Ayah dan Ibu Mayang kebetulan sedang tidak ada di rumah. Adik-adik Mayang juga sudah berangkat ke sekolah. Suasana rumah yang sepi membuat Darmanto sedikit lega, sebab dia tak perlu takut ketahuan jika bertanya yang aneh-aneh pada Mayang. Dengan malu-malu, Darmanto menceritakan semuanya. Awal dia bertemu Mbah Samijan, hingga hasil ramalannya.

Mayang mengangguk-angguk. Rambut panjangnya turut berayun mengikuti gerak kepalanya. “Aku mengerti,” katanya sembari menahan senyum. “Aku mengerti kecemasanmu. Tapi aku rasa, belum saatnya kamu tahu jawabannya.”

“Kenapa?” sergah Darmanto memaksa. “Menurutku sebaiknya kamu katakan saja.”

“Kenapa kamu bicara begitu, Mas?” tukas Mayang naik pitam. “Kamu mau menikahiku atau mau menikahi bulu kemaluanku?”

Darmanto terbelalak.  Pemuda itu terperanjat melihat reaksi yang ditunjukkan Mayang, lebih-lebih mendengar pertanyaannya. Dia mengerang lirih dan geleng-geleng kepala. Darmanto tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahnya memberat serupa batu.

“Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf,” kata Darmanto merunduk malu.

Mayang tak menjawab. Gadis itu mendengus, lalu meninggalkan Darmanto terpaku di ruang tamu. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan untuk menyerahkan jawabannya pada nasib. Dia tak berhasrat lagi mencari tahu. Darmanto mengubah keyakinannya dan akan menjalani pernikahan tanpa perlu mencemaskan ramalan Mbah Samijan. Meskipun diam-diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darmanto masih berharap Mayang punya rimba di kemaluan.
***

Siang itu kampung Bondol ramai. Darmanto dan Mayang melangsungkan pernikahan. Suara organ tunggal terdengar riuh. Orang-orang bersuka cita dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Pesta itu sebenarnya berlangsung cukup meriah, namun tidak bagi Darmanto. Pernikahan itu terasa berat baginya. Di atas kursi pelaminan, sepanjang pesta dilangsungkan, pemuda itu tampak gelisah.

Hingga waktu pun bergulir menuju sore, sore pun beringsut menuju malam. Di kamar pengantin, seusai pesta digelar, Darmanto dan Mayang bersiap melakukan ritual sakral malam pertama. Terngiang-ngiang di telinga Darmanto ramalan Mbah Samijan saat Mayang melepas pakaian.

“Lampunya matikan saja ya, Mas?” bisik Mayang.

“Kenapa?”

“Aku malu."

“Oh ya, tak apa. Matikan saja,” jawab Darmanto santai. Lagi pula dia tak perlu nyala lampu untuk menemukan apa yang diharapkan.

Dengan hati-hati Darmanto naik ke ranjang. Terdengar napas memburu dari mulut Mayang ketika jemari Darmanto merayap di atas lutut, terus naik ke atas paha.

“Matilah aku!” jerit Darmanto tiba-tiba.

Jemarinya terus meraba-raba, mencari apa yang diharapnya ada. Tetapi Darmanto tak menemukan apa-apa. Semuanya polos tak ada rimba. Darmanto merasa pandangannya berubah buram, seturut bayangan masa depan yang juga ikut-ikutan buram. Darmanto tidak tahu jika sehari sebelumnya, Mayang telah mencukur tandas semuanya. Mayang lupa, betapa berharganya rimba itu bagi suaminya. (*)

Catatan:
Cerpen ini pernah tayang di harian Denpasar Post, edisi Minggu, 07 April 2019
Share:

Cengkung


Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan. Seperti orang gila, ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana, tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong,  orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.
***

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemaladara jelita, puteri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, puteranya semata wayang.

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui, tak ada yang meragukan kecantikan Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, namun mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan karat serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi puterinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudagar terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang dipinta Pacik Awang, bukan sesuatu yang sulit baginya.

Lagi pula, Pacik Hambali bersahabat dekat dengan Pacik Awang. Persahabatan yang terjalin bukan setahun dua tahun belaka. Mereka bersahabat lebih dari saudara. Namun persoalan datang justru dari Kemala. Gadis itu menolak rencana perjodohan yang digadang-gadang untuk dirinya.

“Pernikahanmu dengan Anwar adalah ujian martabatku. Jangan sesekali menolak kecuali kauingin mengguyur kepalaku dengan kotoran.”

“Bukan aku menolak, Ayah ...” sahut Kemala ragu-ragu. “Tapi ...”

“Tapi kenapa?” potong Pacik Awang tak sabar. Wajah Kemala berubah pucat seperti mayat. Tusukan tajam mata lelaki tua itu membuat jantungnya menciut. Hampir dua puluh tahun hidupnya, tak pernah sekalipun ia membantah kata-kata ayahnya.

"Apakah anak bujang Kasim itu yang membuat kau durhaka padaku seperti ini?” Pacik Awang muntab. Ia tegak berkacak pinggang, sebilah skin tersembul dari balik bajunya.

“Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Bang Radin, Ayah.” Kemala menundukkan wajah. Bang Radin hanya teman sesama guru.”

“Nah, kalau begitu apa alasan kau menolak perjodohan ini?”

“Aku tak setuju jika cengkung dipakai dalam adat pernikahanku," jawab Kemala pelan. Wajahnya menunduk semakin dalam.

“Kenapa kau tak setuju? Tak perlu takut jika kau tak berbuat apa-apa." Pacik Awang mulai melunak. Tatapan pisaunya menumpul.

“Aku tak takut.”

Pacik Awang menatap Kemala penuh selidik, “Tapi kenapa kaumenolak? Apa karena alasan kau tak suka pada Anwar. Sudahlah, Kemala, rasa suka itu akan muncul jika kalian berumah tangga. O, atau kau sudah melanggar adat, hingga takut cengkung tak berbunyi di malam pengantinmu?”

“Demi Tuhan dan demi Ibu yang melahirkanku. Aku masih suci, Ayah. Aku selalu menjunjung tinggi harga dirimu."

Mata Kemala berkilat, suaranya berderak di antara hening yang memantul di rumah panggung berdinding papan itu. Matanya berair saat memandang potret bisu perempuan yang sedang tersenyum beku di dinding rumah itu.

"Aku tak mungkin menistakan diri dan membuat ibu menangis di alam kubur," isak Kemala.

"Jika begitu, tak ada yang perlu kaucemaskan. Lagi pula siapa yang akan meneruskan adat di kampung ini kalau bukan kalian-kalian yang masih muda."

"Tidak, Ayah! Tidak!" seru Kemala. Ia berdiri menantang, bagai menjelma harimau luka. Gadis itu menantang mata Ayahnya. “Cengkung adalah adat yang menghina. Ayah harus tahu, bahwa kesucian wanita tak selamanya berpaut pada tetes darah di lembar pembungkus orang mati!"

“Cukup!" bentak Pacik Awang dengan wajah merah padam. "Kau tak usah membantah. Aku dan Hambali sudah sepakat. Kau dan Anwar akan menikah bulan depan!" tegasnya menyudahi perdebatan. Lelaki itu lantas meninggalkan Kemala duduk terdiam tanpa mampu menjawab apa-apa.

Selepas pertengkaran hebat itu, Kemala menjadi batu. Di punggungnya bagai ada sebongkah es yang merayap. Dentang cengkung adalah sangkakala penanda kiamat. Pengadilan adat akan menjerat lehernya, tak peduli meskipun ia tak pernah mencurangi dirinya sendiri.

Kemala dirundung bingung, sebab tak tahu harus berbuat apa. Kesucian wanita memang tak selamanya dibuktikan setetes darah di malam pertama. Namun ayahnya dan orang-orang di kampungnya mana tahu dan mana peduli perihal itu. Kemala menekur diri, membayangkan musibah besar yang akan jatuh menimpa apa bila perjodohan itu betul-betul terlaksana.

Di dalam aturan adat yang berlaku turun temurun, usai pesta pernikahan digelar, kehormatan dan kesucian pengantin wanita harus dibuktikan di atas sehelai kain putih dan dentang cengkung di malam pertama. Hanya dengan cara itu kesucian akan dijamin. Bagai hitam di atas putih, terang-gelapnya tak bisa dipersengketa.

Ketika sepasang pengantin menyibak tirai kamar, seisi kampung akan menunggu. Apabila cengkung berbunyi bertalu-talu, itu pertanda pengantin wanita masih perawan dan apabila cengkung membisu, maka kampung dianggap telah ternoda dan harus melakukan upacara tolak bala.

Hujat gunjing akan menjadi racun yang menusuk tulang belikat. Orangtua yang ketahuan anak gadisnya tak lagi suci, akan dicemooh dan dihina. Sedangkan sang gadis akan diusir. Adat inilah yang menjadi hantu di benak Kemala, berpuluh hari sejak diterimanya pinangan itu oleh ayahnya
***

Apa yang diucapkan Pacik Awang satu bulan yang lalu menjadi kenyataan. Hari yang paling ditakuti Kemala tiba juga. Akad nikah dilaksanakan dan Kemala tak memiliki kesempatan untuk menghindarinya.

Rumah panggung yang panjangnya hampir tiga puluh depa itu ramai oleh tamu-tamu undangan. Ruang berbentuk aula dijadikan tempat untuk berkumpul. Pacik Awang dan Pacik Hambali sibuk meladeni tamu-tamu yang berasal dari beragam latar belakang. Ada pejabat, ada saudagar, ada rakyat biasa, semua berbaur menjadi satu. Sesekali mereka tertawa dan saling menepuk bahu tanda memuji.

Di atas kursi pelaminan, Kemala dan Anwar duduk bersanding bagai raja dan permaisuri. Anwar duduk gagah dengan senyum yang tak henti-henti. Ia bangga telah menyunting Kemala, kembang kampung Labuk Tampui. Tapi Kemala terlihat kuyu. Ada ketakutan yang membayang di wajah cantiknya.

Kemilau songket bersulam emas tak sanggup menyulam senyum di bibir Kemala. Risau terpahat begitu nyata. Gadis itu bagai bidadari yang terperangkap di samping raksasa jahat. Meski ia tak menangis, namun ketakutan itu membayang jelas.

Siang menyasar menuju sore, sore beringsut menuju malam. Tibalah pada acara puncak yang paling ditunggu-tunggu. Malam pertama pengantin baru. Seperangkat cengkung sudah dipersiapkan di atas panggung dan kain putih telah digelar di atas ranjang pengantin.

Detik berjalan senyap bagai tak bernyawa. Orang-orang menunggu berkasak-kusuk. Ada yang tertawa, ada yang berbisik mengumbar canda. Perempuan-perempuan juru masak di dapur terkikik-kikik. Semua membayangkan apa yang tengah terjadi di bilik kamar pengantin.
Suasana malam yang penuh kasak-kusuk dan tawa tertahan-tahan itu redam oleh derit pintu kamar yang terbuka. Berpuluh pasang mata tak sabar menunggu kabar. Anwar melangkah keluar dengan muka masam. Di tangannya tergenggam kain putih yang telah kusut. Ia tak banyak bicara, hanya menyodorkan kain putih itu pada ayahnya.

“Tak perlu menabuh cengkung!" teriak Pacik Hambali pada tetua adat yang menjadi perwakilan mempelai laki-laki. “Kain ini tidak akan berdusta. Kampung ini telah ditaburi bibit bencana. Tega nian engkau padaku, Awang! Anak gadismu ternyata tak lagi perawan. Ini buktinya!”

Lelaki itu melempar kain putih ke wajah Pacik Awang. Ia lantas membukanya dengan jemari gemetar. Tak ada bercak noda di sana. Tak ada darah yang yang menjadi bukti kesucian Kemala. Datuk Awang merintih. Ia terduduk lunglai tanpa bisa berkata-kata.

Malu serupa skin yang ditusukkan ke ulu hati. Anak kebanggaan sekaligus anak yang menjadi penjunjung harga dirinya telah melumurkan najis kepalanya. Kenyataan itu telah membungkam mulut Pacik Awang untuk membela harga dirinya yang jatuh di hadapan berpuluh pasang mata.

Di balik kamar pengantin, Kemala meratap. Tipis nian adat membalut harga dirinya. Setipis kain putih yang menjadi pembukti kesuciannya. Sungguh berat beban malu yang akan ditanggungnya. Ia akan terusir, bukan karena kesalahan yang dikira orang-orang, melainkan karena adat yang buta pada kesalahan yang tak pernah dilakukannya.

Pesta pernikahan malam itu menyisakan luka yang menganga. Satu persatu orang-orang meninggalkan rumah panggung Pacik Awang. Malam pun kian melengang, hanya sesekali terdengar isak tangis Kemala yang bersikejar dengan rintih pedih Pacik Awang.

Bulan menggantung pucat di langit kampung Lubuk Tampui. Saat malam menuju dini hari, Kemala meninggalkan rumahnya. Diam-diam gadis itu menerabas kepekatan malam dan menuju sawah Tanjung Raya. Di dahan pohon kepayang tua, ia menebus malu dengan nyawanya. (*)

Catatan
Cengkung. Sejenis gong kecil yang ditabuh saat malam pertama. Jika gong dibunyikan maka pertanda mempelai perempuan masih perawan. Sebaliknya, jika tidak ditabuh, maka pengantin perempuan dianggap tak lagi perawan dan pihak mempelai laki-laki berhak menceraikannya. Adat ini masih ada sampai sekarang di kabupaten Muara Enim, Sumatera-Selatan.

Skin. Pisau pendek khas dari Kabupaten Muara Enim, bentuknya mirip helai ekor ayam jantan.


Cerpen ini pernah tayang di koran Kompas, edisi Minggu, 24 Februari 2019
Share:

Surga untuk Lelaki yang Tertipu


Janji surga bagi Santo ibarat secawan anggur yang manis. Semakin diminum, semakin memabukkan. Sedangkan agama, ibarat laut kenikmatan yang maha luas. Semakin jauh ia menyelam, semakin dalam ia tenggelam. Dan kepada seorang lelaki tua yang sangat alim, ia menyerahkan segenap hidupnya demi mengejar keduanya.

“Agama adalah nyawa,” kata lelaki tua itu berwibawa. “Lakukan semuanya untuk agama. Jika agama menuntutmu mengorbankan nyawa, maka berikanlah.”

Sejak ia berguru kepada lelaki tua itu, Santo menanamkan nasihat itu ke dadanya. Berbilang bulan ia ditempa baik lahir maupun batin. Mata belianya memandang agama adalah kebenaran mutlak yang harus dibela. Ia dijejali kitab-kitab sirah yang berisi kisah-kisah kepahlawanan orang-orang terdahulu. Orang-orang yang membela agama dengan harta, jiwa dan raga.

“Tidak ada agama yang ditegakkan dengan mudah,” ucap lelaki tua itu berapi-api. “Langkah menuju kemuliaan itu selalu meninggalkan jejak-jejak berdarah.”

“Apakah kemuliaan itu, Guru?” tanya Santo melampiaskan hasrat ingin tahunya yang meluap-luap.

“Surga adalah kemuliaan,” jawab lelaki tua itu tanpa ragu.

Mata bundar belia itu bersinar penuh harapan. “Bagaimana cara meraih kemuliaan, Guru?”

“Dengan pengorbanan dan kesungguhan,” jawab lelaki tua itu seraya mengusap-usap jenggotnya. “Ketahuilah, Anakku. Dunia ini fana belaka. Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Lalu, dikisahkan pula oleh lelaki tua itu, betapa di belahan bumi yang lain, saudara-saudara mereka diperkosa, dijajah, dianiaya dan dibunuh semena-mena. Dada Santo tersulut segunung api kemarahan. Di benaknya yang lugu, terlahir sebuah kesimpulan, bahwa semua agama selain agamanya adalah kesesatan yang nyata.

“Apakah kau mau masuk surga?” tanya lelaki tua.

“Aku bersedia,” sahut Santo semringah.

Dengan penuh suka cita, lelaki tua itu membawa Santo ke sebuah tempat rahasia. Meretas rimba belantara yang jauh dari pemukiman. Di tempat itulah, Santo belajar menggunakan senjata, merakit peledak, dan berlatih olah fisik.
Kehidupan yang ia jalani sekarang hanya bersifat fana belaka. Jika mau masuk surga, dunia harus bersih dari para pendosa. Bertahun-tahun lamanya, Santo mendambakan surga. Surga yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

“Selamat jalan,” kata lelaki tua itu pada Santo. “Kau telah berhasil memenuhi semua syarat yang dibutuhkan. Pergilah dengan hati bulat. Doaku selalu menyertaimu.”

Sebelum berangkat, Santo mencium tangan lelaki tua itu dengan penuh keharuan. “Kutunggu kau di pintu surga,” katanya pelan. Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ia memeluk dan mencium kening Santo sebagai tanda perpisahan.

“Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Sekarang Santo mengingat kata-kata itu lagi. Ia sedang berdiri di sebuah kafe yang sedang ramai pengunjung. Pemuda itu menyingkirkan pikiran dan pandangan matanya pada kenyataan bahwasanya sebagian dari para pengunjung kafe itu hanyalah anak-anak dan wanita. Pada langkah ke tigapuluh, lelaki itu menekan picu di dadanya dan semuanya menjadi gelap seketika.
***

Sebelum Santo menuntaskan tugas mulia itu, hatinya kecilnya telah memperingatkan bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sesuatu yang sangat dungu. Namun Santo tetap bertahan, mencoba menguatkan diri dan berusaha tidak peduli pada jeritan lantang yang bergema di dadanya itu.

“Ada tujuh lapis cahaya yang akan menghalangimu pergi ke surga. Jika satu lapis saja terbuka, niscaya kau akan menguap jadi udara,” lantang suara hati kecil Santo berteriak. “Cahaya yang terlalu terang tidak hanya akan membutakan mata lahir, namun juga mata batin. Jika tak mawas diri, kau akan terbakar sia-sia.”

“Apa pun risikonya, aku akan menerima,” sanggah suara lain di kepala Santo tak kalah lantang. “Apa pun yang terjadi, agama ini akan kubela sampai mati.”

“Aku hanya mengingatkan,” ujar suara itu tak mau menyerah. “Aku harap kau tahu apa yang sedang kaulakukan. Kau masih memiliki kesempatan untuk menghentikan semua ini.”

Santo mengabaikan suara itu. Namun penyesalan datang mengungkungnya dari segala penjuru. Ia terkurung dalam ruang terang yang sangat lapang, tercekik sensasi menyilaukan yang meremas bola mata. Entah bagaimana ia bisa berada di sana. Seolah-olah ada kekosongan dalam ingatannya sebelum ia berada di sana.

Santo hanya mampu mengingat sekelumit peristiwa. Pagi itu, di sebuah kafe, sebuah ledakan hebat membuat jiwanya terbang bersama segala ingatan yang berhamburan dari tubuh dan tempurung kepalanya. Selebihnya, Santo tak mampu mengingat apa-apa.

Kebingungan merangsek masuk ke dada dan kepalanya. Menciptakan rasa sesak yang menyakitkan. Santo tak kunjung mengerti alasan  mengapa ia bisa berada di tempat itu. Ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ia sudah berada di alam kematian? Atau, mengapa surga tak seperti yang digambarkan di dalam kitab sucinya?

Santo diam sejenak, kepalanya tertunduk. Ia sangat berharap ada yang sudiberinya jawaban, tapi tidak ada. Hanya denging kesunyian yang menusuk-nusuk dinding tebal rasa sabarnya. Pada akhirnya dinding kesabaran itu runtuh dan ia meneriakkan kata-kata paling buruk yang pernah keluar dari mulutnya sepanjang hidup.

“Aku sudah muak! Dengar, aku sudah muak! Keparat! Di mana aku berada?”

Sekarang air mata mulai mengaliri pipinya. Santo tidak bisa lagi menahannya. Tidak bisa lagi menipu diri bahwa ia tidak takut. Suaranya yang bergetar mula-mula mirip suara anak kecil, lalu lama kelamaan mirip lengkingan bayi yang tergeletak dan dilupakan di tempat tidurnya. Pantulan suara itu membuatnya menggigil. Satu-satunya suara yang bergema di tempat sunyi itu hanya suara tangisannya, jeritannya meminta tolong, memohon dalam keputusasaan.

“Aku sudah tahu tanpa perlu kauberitahu.”
Setelah beberapa waktu, akhirnya Santo mendengar satu suara yang datang dari arah depan. Suara tanpa sosok. Santo menegakkan punggung perlahan-lahan, kemudian memandang ke hadapan dengan ketakutan yang kian meraksasa. Ia menghapus air mata dengan punggung lengan.

“Siapa kau?” tanya Santo gugup.

“Aku adalah dirimu sendiri,” jawab suara tanpa wujud itu. “Yang menemanimu sepanjang hidup.”

Tubuh Santo mulai mengigil. “Apakah aku sudah mati?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Kau memang telah mati.”

Jawaban itu membuat sekujur tubuh Santo tiba-tiba lunglai. Suara itu menggema dari balik cahaya, terdengar lembut  menentramkan, namun tersirat sebuah ancaman—setidaknya Santo merasa begitu.

Tempatnya bersimpuh telah menjadi padang rumput yang maha indah. Semilir angin membawa aroma bunga yang merekah. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, hijau, ungu, hitam, putih, emas, perak, jingga dan jutaan warna lain. Semuanya merekah dan menguarkan aroma wangi yang manis.

“Apakah aku sudah berada di surga?” tanya Santo kebingungan.

“Apakah menurutmu kaulayak tinggal di surga?” suara tanpa wujud itu balik bertanya. “Surga tertutup bagi para pendosa.”

Bunga-bunga yang tadi merekah tiba-tiba menguncup. Warna-warna yang melekat pada kelopaknya memudar, lalu kering dan menyerpih seperti kertas yang terbakar. Angin wangi yang tadi semilir, sekarang berganti bau busuk yang menyengat. Batin Santo bergemuruh. Tempat bersimpuhnya berubah menjadi padang tandus panas yang penuh lekang-lekang berdebu.

“Mengapa aku berada di sini? Bukankah guru menjanjikan surga untukku?” tanyanya lirih.

“Kau telah tertipu. Kau tak menggunakan akal dan pikiranmu. Tidak ada surga untukmu. Tidak akan pernah ada."

Jawaban itu membuat Santo mulai menangis. Ia berteriak-teriak memohon ampunan. Tapi hening, tak ada jawaban. Perlahan-lahan cahaya yang terang itu menjauh, membuat sekelilingnya berangsur menjadi gelap. Suasana berubah menjadi begitu sunyi. Begitu mati.
Santo terbujur dalam kesedihan . Tubuhnya tak mampu lagi bergerak—seolah-olah seluruh kerangkanya telah hancur menjadi abu. Lelaki itu kian keras menangis saat ruang lapang di sekelilingnya mulai bergerak, menyempit dan menghimpit tulang rusuknya satu demi satu. (*)


Catatan: Cerpen ini pernah tayang di koran Haluan, edisi Minggu, 03 Februari 2019
Share:

Sabtu, 07 Maret 2026

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray

Ketika Russel Donovan di bawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberitahu bahwa Russel akan diinterogasi.

Di dalam ruang interogasi sudah ada seorang laki-laki yang tampaknya memang sudah menunggu kedatangan mereka. Laki-laki itu duduk di balik meja besi yang memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Di balik kemeja hitam kusutnya, laki-laki itu bagai sebatang pohon oak yang meranggas kering. Bola mata biru yang keruh itu tak berhenti menatap ke arah Russel. Ia seakan sedang menakar ketidakmungkinan bahwa laki-laki dengan penampilan lembek seperti Russel perbuatan kejamnya telah mengisi halaman surat kabar dan membuat walikota dan komisaris polisi sampai harus turut memberikan keterangan pers.

Ia sudah menghubungi pengacara? tanya laki-laki berkemeja hitam.
Belum. Mungkin tidak akan ada pengacara yang akan mendampinginya, kata laki-laki penjaga itu seraya memastikan ikatan di kaki Russel tidak longgar.

“Terima kasih, Jenkins,” kata laki-laki yang duduk di belakang meja besi.

Laki-laki penjaga yang dipanggil Jenkins itu mengangguk kemudian berlalu, “Aku ada di luar. Kalau dia berulah, panggil saja aku, biar kupatahkan lehernya” kata laki-laki itu dengan tatapan dingin pada Russel.

“Tentu saja, Jenkins,” jawab laki-laki setengah baya itu sembari tertawa.

Di ruangan berukuran 4x4 meter itu, sekarang hanya tinggal Russel dan laki-laki setengah baya bertubuh ceking itu saja. Laki-laki setengah baya itu bertatapan dengan Russel beberapa saat sebelum langkah kaki Jenkins hanya menyisakan gema dan derit pintu ruangan yang menutup rapat.

“Apakah Anda mabuk tadi malam?” tanya laki-laki setengah baya itu sembari menyipit. Di tangannya melingkar rolex warna emas, Russel yakin itu barang tiruan yang di beli di kawasan Bronx, West Side. Sebelum bekerja di The Greyhound, Russel pernah menjadi penjual barang-barang imitasi selundupan dari China, salah satunya seperti rolex yang dipakai laki-laki yang sedang menginterogasinya itu. Russel tersenyum mendapati pemikiran jenaka itu menyempal di kepalanya.

“Kau bisa menjawab pertanyaanku?” Tangan yang dilingkari rolex itu menghantam meja. Suara gebrakan keras membuat tubuh Russel tersentak.

“Tadi malam aku minum bir di club Wrangler. jawab Russel tergeragap. Aku rasa satu gelas bir tidak akan membuatku mabuk”

“Kau bersama seseorang saat itu?”

Russel menggeleng. “Aku sendirian,” jawabnya mulai santai. “Tapi jika kau bertanya siapa saja yang ada di tempat itu tadi malam, aku bisa menunjukkan. Mungkin kita bisa berbincang dalam suasana lebih bersahabat di sana?”

“Kau jangan coba-coba bermain denganku.” Laki-laki setengah baya itu beringsut, meletakkan kedua siku di atas meja. “Menurutmu, apa untungnya membohongiku?”

“Oh ayolah,” kata Russel tertawa. “Aku tidak berbohong. Aku memang minum bir tadi malam. Tapi aku sama sekali tidak mabuk.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?” jawab Russel mulai kesal.

“Apa yang kausembunyikan?”

“Tidak ada. Aku berbohong pun, anjing itu tidak akan hidup lagi.”

Laki-laki setengah baya itu menggeram. Russel ingin tertawa saat melihat tampang kusut laki-laki itu. Ia membayangkan laki-laki itu seekor gagak hitam kurus dan jelek. Rambutnya yang beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai helai rumput kering. Namun dari semua itu, suaranya yang berat dan parau itulah yang paling membuat Russel ingin tertawa.

Entah untuk menggertak atau membuat nyali Russel menciut, laki-laki setengah baya itu mencabut pistol di pinggang dan meletakkannya di atas meja. Melihat pistol itu, Russel ingat pistol yang ia buang tadi malam. Ia mencemaskan benda itu ditemukan Tom—anak tetangganya yang berumur sembilan tahun. Russel berharap polisi sudah menemukan benda itu atau benda itu tetap berada di tempatnya sampai urusannya di sini selesai.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku tidak memikirkan apa pun saat ini,” jawab Russel berbohong.

Laki-laki setengah baya itu berdeham. Jari-jarinya yang kurus mengetuk-ngetuk meja besi, seperti irama perkusi yang kacau. Bentuk jari-jari itu seperti ranting kering. Ada noda nikotin di kuku telunjuknya, sedang pada jari manisnya ada jejak lingkaran memutih yang mungkin berasal dari cincin kawin yang baru satu atau dua minggu dilepas. Membayangkan jari manis dan bekas cincin itu membuat Russel mual. Ia melepas cincin kawin miliknya dan mengantonginya.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanya laki-laki setengah baya itu.

“Melakukan apa?”

“Itu...” jawab laki-laki setengah baya sembari menunjuk jari manis Russel. “Tampaknya kaubenci sekali pada istrimu.”

“Apa bedanya denganmu?” Russel melirik jari manis laki-laki setengah baya di hadapannya. “Apakah dengan melepas cincin itu artinya kau juga membenci istrimu?”

Laki-laki setengah baya itu menautkan jari-jarinya dan membungkukkan badan sambil bersitumpu ke meja. Ia tidak menjawab pertanyaan Russel. Matanya menusuk langsung ke mata Russel dengan ekspresi memendam amarah. “Istriku meninggal satu tahun yang lalu,” desisnya dingin.

“Aku berharap istriku juga segera menyusul istrimu ke neraka.”

Laki-laki setengah baya itu tidak menjawab, namun spontan melayangkan tinju ke pelipis Russel. Sebuah hantaman keras yang tak sempat terhindarkan itu membuat kepala Russel berputar ke kiri. Pandangan matanya berkunang. Sesaat ia melihat wajah laki-laki setengah baya itu babak belur dan mengerikan—seperti wajah orang yang mentalnya terbelakang. Wajah itu sama buruknya atau bahkan lebih buruk lagi dari anjing yang ia bunuh tadi malam.

Russel ingin menampar wajah itu dan membuat matanya meledak, mengisi rongganya dengan darahnya sendiri. Russel memang berhasil menahan keinginan itu, tapi rasa muak yang melilit perutnya telanjur memicu suara gemerutup dari sela-sela bibirnya yang terkatup. Di kepalanya terbayang anjing berbulu hitam sedang menggagahi istrinya. Anjing yang membuatnya harus menerima perlakuan seperti ini.

“Apakah aku akan dihukum karena membunuh seekor anjing?”

“Mungkin penjelasanmu akan meringankan.”
“Itu artinya aku memang akan dihukum karena seekor anjing.”

“Bekerjasamalah dengan baik. Kasusmu tidak main-main. Hukuman berat menunggumu di meja pengadilan.”

“Lakukan saja. Hukuman berat karena membunuh seekor anjing. Itu terdengar luar biasa.” Russel mendengus. “Negara ini sudah sinting.”

“Yang kaulakukan juga hal yang sinting,” tukas laki-laki setengah baya itu sinis.
Russel tergelak.

“Kau tidak menyesal?”

“Sama sekali tidak,” jawab Russel santai. “Kenapa aku harus menyesal membunuh seekor anjing?”

“Brengsek!” Laki-laki setengah baya itu menggebrak meja. Russel tertawa semakin keras, tapi tawa itu terbungkam seketika saat laki-laki setengah baya itu berkata dengan nada keras.

“Laki-laki ini sudah gila!”

“Aku sama sekali tidak gila,” sahut Russel geram. Tubuhnya mencondong ke depan, seolah menantang. “Aku hanya membunuh seekor anjing.”

Laki-laki setengah baya itu balas mendekatkan wajahnya, membuat Russel mencium aroma tembakau yang kuat dari mulutnya. “Kau telah menembak mati anakmu sendiri, Russel Donovan.”
***


Gray mengepal tangannya kuat-kuat, dari mulutnya melesat sumpah serapah. Penjahat yang dihadapinya pagi ini memang keterlaluan. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tadi malam. Penjahat itu bersikeras hanya membunuh seekor anjing. Ia mengaku tidak bersalah. Bahkan ia merasa  apa yang dilakukannya adalah bentuk pertahanan diri secara naluriah.

Gray mengambil selembar foto dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja. Sejenak ia memerhatikan ekspresi laki-laki di hadapannya. Di foto tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata gelap; sedang tersenyum manis. Di bawah foto itu tertulis keterangan; Bernard Donovan, siswa teladan St. Crispins School di East 90th Street.

“Sekarang apa yang kau pikirkan?” tanya Gray sambil menyilangkan tangan ke dada. Ia berusaha mengumpulkan kesabaran yang tadi habis terkuras. “Apa alasanmu melakukan tindakan tak masuk akal itu?”

Pertanyaan beruntun itu membuat laki-laki berwajah agak pucat itu mengangkat wajah dan memandangi Gray. Sambil mengerutkan kening dengan skeptis, laki-laki itu mendecak-decakkan lidah.

“Entah, ya.”

Gray menahan keinginannya untuk menyerbu ke seberang meja dan mencekik tenggorokan laki-laki itu. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan sangat buruk. Laki-laki yang baru ditangkap dini hari tadi, sekarang membangunkan amarah pada diri Gray. Tingkah tolol dan jawabannya yang berbelit-belit itu membuat Gray benci setengah mati.  Rekan-rekannya selama ini menganggap Gray adalah seorang interogator terbaik yang pernah ada di distrik West Side. Ia punya bakat alami hebat, seperti Jordan ketika melakukan slam dunk. Tapi kali ini, di hadapan laki-laki ini, Gray betul-betul dibuat tidak berdaya.

“Apa yang Anda lakukan sulit diterima akal sehat. Anda contoh orangtua yang buruk bagi negara ini,” maki Gray tak tertahankan.

“Negara ini juga telah berlaku buruk padaku,” jawab lelaki itu, seraya meluruskan pinggang dan duduk tegak.

Gray berusaha menyembunyikan wajah gusarnya. “Tidakkah hati nuranimu menyadari kalau nyawa yang kaurenggut itu masih terlalu muda untuk mati, terlebih dengan cara sekeji itu?”

“Ayolah, kau tidak usah berkhotbah tentang hati nurani, padahal orang-orang di lingkunganmu sendiri adalah orang-orang yang juga tidak memiliki hati nurani.”

Geraham Gray gemerutup. Ia membenci seringai sarat ejekkan laki-laki itu hampir seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur departemen kepolisian di negara ini. Ada benarnya juga ucapan laki-laki itu. Gray menyadari jika dari banyak departemen di Amerika yang terkenal korup, departemen kepolisian termasuk di antaranya.

"Bagaimana reaksimu jika mendapati istrimu sedang bercinta dengan anjing. Kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, bukan?" lanjut laki-laki itu sambil menyeringai.

Nyaris saja Gray melayangkan tinju ke wajah lelaki itu jika saja Jenkins tidak buru-buru masuk. Jenkins membisikkan sesuatu yang membuat Gray merasa ada bongkahan es yang mengguyur tengkuknya seketika.

“Kami sudah mendapat motif kenapa dia membunuh anak itu,” bisik Jenkins pelan. “Tadi malam dia memergoki istri dan anaknya sedang bercinta. Dua orang yang dicintainya itu berkhianat dengan cara yang kejam ya?”

Gray terdiam dan tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaan Jenkins. “Bagaimana dengan istrinya?” tanya Gray.

“Perempuan itu melarikan diri dan sekarang sedang dicari.”

Gray tak bisa berkata-kata lagi. Ia memandang laki-laki di hadapannya itu dengan perasaan iba yang tebal. Gray terduduk lesu, benaknya dipukuli bayangan mengerikan yang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Bayangan itu merekonstruksi adegan di malam satu tahun yang lalu, ketika ia membubuhkan racun ke minuman istrinya. Perempuan itu telah mengkhianati dirinya dengan cara yang juga sangat kejam; bercinta dengan adiknya sendiri. (*)

Cerpen ini pernah tayang di Harian Jawa Pos, edisi Minggu, 26 Juni 2026
Share:

Kidung Natal dan Salju Merah


San Juan Hill mendadak gempar karena peristiwa horor di malam Natal. Koran-koran pagi memampang Headline berita mencengangkan, Warga West Side Menembak Mati Putra Kandungnya Sendiri!. Berita ini sebenarnya biasa saja bagi sebagian warga kota yang telah terbiasa dengan tingkat kriminalitas tinggi seperti New York. Namun terdengar luar biasa bagi orang-orang yang mengenal pelakunya, Russell Donovan.

Tidak seharusnya Russell membunuh Bernard. Umurnya belum genap tujuhbelas tahun. Anak itu terlalu muda untuk mati. Apa lagi jika mengingat kepribadian Russell yang dikenal selama ini. Rasanya tidak mungkin orang yang begitu religius seperti dia akan berurusan dengan polisi, terlebih kasusnya yang sangat mengerikan.

“Terkutuk kau Russell. Kau membunuh anak yang tak berdosa! Neraka menunggumu, neraka!"

Demikian kira-kira sumpah serapah dan pengadilan kata-kata yang berhamburan dari mulut tetangganya. Namun Russell tak peduli, dia berjalan dengan wajah tegak menantang walaupun telinganya dihujani cacian dan tatapan sarat kebencian. Rusell meludah ke tanah. Dia tahu tak ada satu pun di antara kerumunan itu yang mengetahui alasannya membunuh Bernard. Tak ada satu pun yang mengetahui seperti apa perasaannya saat menghabisi anak itu.

Russell tidak menyesali perbuatannya. Jika pun ada yang disesalinya, itu adalah revolver-nya yang tak sempat menghabisi nyawa orang kedua malam itu. Orang yang berlari sebelum proyektil tajam menembus tubuhnya.
***


Kidung Natal bergema bersama badai salju yang turun lebat di Kota New York. Menurut laporan badan cuaca, itu adalah badai salju terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Badai salju yang bergerak lamban itu menyapu sebagian kawasan Amerika. Bahkan di beberapa negara bagian dan kota, pemerintah setempat terpaksa memberlakukan keadaan darurat, termasuk New York.

Keadaan darurat yang telah berlangsung berminggu-minggu ini juga berimbas pada perusahaan transportasi The Greyhound tempat Russell bekerja. Malam itu Russell pulang lebih cepat dari biasanya. Selain memang bertepatan dengan malam Natal, pemimpin perusahaan menginstruksikan seluruh armada bus untuk diistirahatkan tanpa batas waktu. Itu artinya kiamat buat Russell yang hanya pekerja lepas.

Russell pulang dengan perasaan kesal. Jangankan tunjangan selama dirumahkan, untuk sekedar uang lelah pun tak diberikan oleh pihak perusahaan. Ini adalah Natal yang buruk bagi Russel. Di saat orang-orang tengah bergembira, dirinya justru berduka.

Dia berjalan menyusuri kawasan Distrik Teater Broadway dengan perasaan kacau. Suhu yang mengiris jangat dan salju yang bertumpuk di pinggir jalan tak mampu meredam panas hatinya yang baru saja merasakan ketidakadilan. Russell geram pada pemerintah yang tak pernah berpihak pada kaum minoritas seperti dirinya.

Pemerintah memang tak pernah tahu masa lalu dan silsilah keluarganya. Kakek buyutnya cukup pantas jika diberi gelar pahlawan. Pada masa Revolusi Amerika, leluhurnya turut memperjuangkan kota ini dari cengkraman Kolonialis Britania Raya. Leluhurnya ikut berperang dalam pertempuran heroik pada tahun 1776 di Long Island.

Pada perang itu pihak Amerika kalah, namun dalam pertempuran-pertempuran kecil setelahnya, kakeknya turut berjuang melawan tirani yang coba dibangun di tanah ini. Tetapi semua itu menjadi fakta tak berguna. Tak ada yang peduli siapa dia dan apa masa lalunya. Kisah kepahlawanan keluarganya tak mampu membawa Russel keluar dari lingkar kesengsaraan.

Salju menumpuk tebal ketika langkah kaki Russel sampai di perkarangan. Ketebalan salju mungkin sekitar tiga puluh centimeter, menandakan begitu hebatnya badai salju yang melanda. Suara televisi masih terdengar samar-samar dari luar. Sepertinya Carolina dan Bernard belum tertidur. Biasanya Russell memang selalu pulang pagi atau secepatnya dini hari bila jam kerjanya shift malam.

Russell memutar gagang pintu dengan perlahan. Di sepanjang jalan tadi, dia berjanji untuk tidak membawa masalah pekerjaannya ke rumah. Dia sudah memutuskan untuk menyimpan masalah pelik itu seorang diri. Lagi pula seharusnya dia pulang membawa kado Natal untuk Bernard dan Carolina, bukannya beban masalah seperti yang baru saja diterimanya.

Biar saja Carolina--perempuan yang mengikat janji untuk sehidup-semati dalam susah dan senang itu--tak mengetahui apa-apa. Begitu pun Bernard, tak perlu tahu jika ayahnya sekarang pengangguran. Russell tak ingin putranya tahu. Dia malu. Saat perceraiannya dengan Laura--ibu kandung Bernard--lima tahun yang lalu, dia bersumpah untuk membahagiakan Bernard dan mati-matian memperjuangkan hak asuhnya di pengadilan.
Russell melangkah masuk. Pintu sedikit terbuka. Tidak biasanya pintu rumah tak terkunci. Russell melepas jaket tebal yang berlumur serpihan salju dan menggantungnya di belakang pintu. Dia melangkah ke dapur. Coklat panas adalah solusi ampuh untuk mengenyahkan kebekuan di tubuh dan pikirannya. 

Russell melangkah ke depan televisi yang masih menyala. Coklat panas di tangannya mengepulkan asap putih tipis dan menebar aroma harum. Dengan malas dia menyandar di sofa yang berlubang di beberapa bagian. Berkali-kali Russell mengganti channel, mencari siaran yang bisa menghilangkan runyam yang mendengung di dalam kepalanya. Namun siaran televisi hanya sibuk menayangkan berita tentang kondisi cuaca ekstrem yang melanda seisi kota.

Dalam kebosanan yang menyebalkan itu, Russell memilih mematikan televisi dan bergegas tidur. Tetapi gerakannya terhenti saat samar-samar telinganya mendengar suara janggal di lantai dua. Suara menjengahkan siapa pun yang mendengarnya. Suara rintih erotis seorang perempuan yang sedang bercinta. Telinganya mendadak panas dan ritme jantungnya berdegub cepat. Russell bersijingkat ke lantai dua dan berniat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di sana.

“Jangan-jangan Bernard membawa pacarnya ke kamar? Kemudian bercinta karena mengira aku belum pulang kerja? Sialan benar anak itu!" maki Russell dalam hati.

Dengan langkah perlahan dan nyaris mengendap-endap dia mendekati kamar Bernard. Russel menempelkan sebelah matanya di lubang kunci. Seketika darahnya naik ke kepala dan emosinya terbakar tak terkendali. Malam itu Russell melihat adegan yang nyaris membuatnya muntah. Lubang kunci menjadi celah pembuka tabir nista yang selama ini tak pernah diketahuinya. Bernard sedang bercinta dengan Carolina--ibu tirinya sendiri!

"Terkutuk!" desis Russell murka.

Darah menggelegak di sekujur tubuhnya. Giginya gemerutup. Kemurkaan di dada seperti ingin meledakkan jantungnya. Russell berlari menuruni tangga dan bergegas masuk ke kamar. Di dalam lemari dan di bawah tumpukan baju dia meraih sepucuk revolver. Setelah meyakinkan senjata api itu berisi peluru, dia gegas menuju kamar Bernard. Niatnya sudah bulat, kejahanaman itu harus diakhiri dengan hukuman mati.

BRAAK!

Sekuat tenaga Russell mendobrak pintu kamar. Bernard dan Carolina yang sedang bercinta tak dapat berbuat apa-apa. Perempuan itu hanya bisa menjerit tertahan saat menatap wajah dingin suaminya. Bernard menggigil. Wajah ayahnya menjelma setan yang datang dari neraka. Bernard memungut pakaian dan melompat ke jendela. Namun Russell tak membiarkan anak itu lolos begitu saja. Lelaki setengah baya yang telah lupa diri ini berlari dan menembak punggung putranya tiga kali.
Tubuh Bernard limbung, kemudian menggelinding dari atas atap dan jatuh ke perkarangan belakang. Russell berlari keluar dan memburunya. Dia lupa pada Carolina yang masih ada di kamar itu. Perempuan itu memanfaatkan keadaan dan menyelinap lari dalam kegelapan.

Darah merah terlihat kontras dengan salju yang memutih. Tubuh Bernard terkapar di atas tumpukan salju yang tak henti berguguran dari langit. Anak itu mati di tangan ayah kandungnya sendiri. Russell tegak berdiri dengan perasaan hampa. Dari kejauhan terdengar raung sirine mobil polisi yang berbaur dengan Kidung Natal dan gema lonceng dari gereja. Entah siapa yang menelpon polisi-polisi itu, mungkin saja Carolina. (*)

Catatan: cerpen ini pernah tayang di harian Media Indonesia, edisi Minggu, 21 Desember 2014
Share:

Advertisement

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setel...